Posted by: searahangin | August 31, 2009

Aug, 30 2009

My dearest, how are you. It have been a while, from time when I saw you in light of morning dew. Sunday morning that will be forever in my mind when I a wake, and every dream I dreamed. You let me go with out saying goodbye, because no good bye in love, you said. And I walk away with one vow, that I will come to you, no matter when it will be. I promises, and love will keep our promises.

Till then, my darling. Please wait for me, wait me there, with all longing eyes of tender love. Because, I know I will be come to you someday. Dearest, please wait.

Your love, my dear, are keeping me smile until this very moment. Your smile are lay next to my morning sunset. I saw your face in every best picture of beauty. Although there were tears and sadness, but the happiness and joy that may come, each time I remembering you, swept them away. And when that day come, I will hold you again.

But, till then let dream what that will be, till then we’ll call on our each memory, till then, till I felt your heartbeat again mine. Please wait till then.

Posted by: searahangin | August 15, 2009

Tonight Dear

sleep_Harvey_macro_18960_l Tonight dear

Rain drenched the dirt

I brought them into my doorstep

Strangely their bring me your footstep

Tonight dear

Wind swirl between branch

I feel the touch in my lips

Unpredictably she smell just like you

Tonight dear

I wrote  you the song

Song where you’ll live there forever

For me and for our memories

Tonight dear

I found you sitting beside me

I reading you the book I read

And I woke up after the kissing good night

Posted by: searahangin | June 26, 2009

Surat ini harusnya ku hantarkan pada mu setahun yang lalu.

letter

Surat ini harusnya ku hantarkan pada mu setahun yang lalu, tapi kabut menghalangi perjalanan ku. Oh, sahabat, kabut itu sulit ku tepis, ia menghalangi tak hanya kejernihan pandangan ku. Ia menembus hingga ulu hati ku, hingga untuk dapat berdiri saja tak lagi aku mampu, hingga lumpuh menguasai raga ku.

Surat ini seharusnya dapat kau baca setahun yang lalu, sahabat. Andai saja ia dapat menjelma menjadi lebih dari sekedar tinta hitam yang mencoreng putihnya halaman penghantarnya. Tapi tidak, untaiannya pun seindah yang kuinginkan.

Sahabat, andai saja surat ini bersama mu setahun yang lalu, barangkali akan lebih indah adanya. Karena engkau masih memiliki pita merah pengikatnya, engkau masih mengukirkan lukisan kecil mu, penghiasan pinggirannya. Ah, sahabat, waktu sungguh berputar melebihi urat nadi ku.

Namun, kuharap kini ia benar-benar di jalan menuju alamat mu, sahabat. Ku kirimkan surat ini mesti harus setahun ia menanti. Tak lebih dari sekedar perbincangan lama yang kembali ku tuliskan disana, tapi sungguh itu kenangan kebahagian ku, sungguh. Tak lebih dari senda gurau mu yang ku kembalikan pada haribaan mu, ku harap mereka masih mampu membuat mu tersenyum, seperti apa yang telah mereka persembahkan atas ku.

Jika boleh ku berpesan sahabat, janganlah karena amarah mu atas kelancangan ku membuat engkau acuh atas surat ku ini, bila tak mampu aku sampaikan maaf ku, maka dengan ini ku harapkan belas mu. sudilah kiranya kau simpankan surat itu untuk ku, hingga suatu waktu, jika masa ku sampai, akan ku jemput kembali ia, akan ku jemput kembali semua kata-kata ku, dan ia akan abadi bersama ku.

Posted by: searahangin | June 22, 2009

Maka temui aku diantara tetesan embun pagi

morning_dew

Hari ini, Bumi sungguh sama saja seperti kemarin, kemarin lusa, minggu lalu, bahkan tahun lalu. Bahkan setelah badai mengamuk senja, petir-petir menelanjangi angkasa, selepas vulkano-vulkano itu bersenggama, dia masih saja sama. Esok, katanya pula, mentari ku akan masih tetap disana, terbangun di ujung timur ranjangnya, merah karena terbakar hangatnya, tapi masih merajuk malu pada gemintang dan tuan rembulan ku. Esok, lanjutnya pula, bahkan tanpa kau tau, kami damaikan isi perut kami sendiri, dan kau tak perlu tau.

Saat ku datang menemuinya malam itu, dia sedang tidak dalam gaum malam terbaiknya, dia malu, ucapnya. Pelan ku geser daun pintu, hingga hanya raut wajah yang telah terhias yang dapat ku tatap. Aku menawan bukan, jujur sorot mata mu menyampaikannya, bahwa kau tertawan oleh ku, lanjutnya. Tapi tidak, tidak malam ini, sahutnya lagi dengan seukir senyum yang tak akan mampu ku kalahkan. Dan aku kalah.

Datang lah besok pagi, serunya, selepas malam ini, malam dimana aku harus menyatukan kembali satu per satu mimpi ku, malam dimana akan ku bangun lagi jaring-jaring untaian berlian ku, malam dimana akan ku pandang lagi kedamaian kelam, malam yang akan kembali menyusun isi hati ku.

Datang lah besok pagi, setelah bulir embun membasuh debu jalanan, setelah bulir embun membasuh lagi rupa kembang yang layu karena gersang, setelah bulir embun itu melepaskan warna pelangi diantara terik mentari, setelah bulir-bulir embun itu kembali jatuh di atas bulu halus rumput-rumput ilalang.

Datang lah saat itu, saat embun itu masih mampu mendamaikan tanah-tanah meranggas, saat embun itu masih bertahan di antara daun-daun yang bertiup, saat embun itu masih akan menyejukan tangan mu yang hangat oleh lelap. Karena aku diantara mereka, di antara kesejukkan pagi yang ringkih, namun kau damba. Jangan terlambat, bangun lah lebih awal untuk ku, dan temui aku. Temui aku disana, diantara tetesan embun pagi.

Posted by: searahangin | February 3, 2009

Duduklah disampingku

Mendekatlah sedikit kearah ku

Mengapa kau berlari dari ku

Jangan. Jangan berdiam saja disitu

Kemarilah, duduklah disamping ku

Hari masih sore, senja masih remaja

Kemana rupanya engkau begitu tergesa

Hingga kau hiraukan saja hadir ku

Berhentilah, dan duduklah disamping ku

Kemana saja kau pergi

Kenapa tak lagi membawa ku serta

Apa aku hanya membebani

Duduklah disamping ku sebentar saja

Banyak cerita kau lampaui saat kau pergi

Dengarkanlah kisah ku

Akan ku ceritakan pada mu

Mari duduklah disamping ku

Posted by: searahangin | January 25, 2009

25 januari 2009

Hari ini, pagi-pagi sekali telepon genggam ku bergetar hebat, entah karena kantuk yang masih menggelayut atau memang karena subuh yang baru saja berkumandang. Ibunda. Tulisan itu yang terpampang jelas di screen berlatar hitam itu. menyala dan membuat mata ku perih. “Selamat hari jadi ya nak, hanya doa yang bisa mama hadiahkan untuk hari ulang tahun mu ini, barang kali yang lain tidak”. Kata-kata yang sangat biasa itu, menyentak sadarku, mata yang tadi perih kini memanas, dan mulai mengalirkan air mata. “Mama baru saja pulang dari masjid”, lanjut suara itu dengan sedikit bergetar. “Bangunlah nak, shalat”.

Itulah kado terindah ku pagi ini, seorang diri di rantau, membuatku teramat sadar, bahwa aku kehilangan ibu ku, saat ia tak bersama ku. kehilangan yang teramat besar, akan seorang teman berbagi, teman ku mengadukan hati, teman yang merangkul ku kala ku remuk, teman yang menghardik ku tegas kala ku lemah dan menyerah. Ibu, aku merindukan mu.

Posted by: searahangin | December 4, 2008

Dan Van Der Wijck pun tenggelam kembali

Takut dan sesal

Cerita seorang sahabat yang datang pada ku beberapa hari lalu, membawa ingatan ini kembali pada sebuah roman lama, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, oleh Buya Hamka (Sang Maestro). Ingatan ku kembali pada sosok Zainuddin yang membentang harapan luas akan tanah Minangkabau nan rupawan, nun jauh dibalik lautan. Harapan itu pudar, jikala telah sampai ia ke tanah asalnya itu. ia tek teraku minang, bukan lah pula bugis, di rantau badan tersisih, pun di rumah badan tak berharga. Konon Hayati, nama seorang bunga desa, keturunan Datuk, bergelar berkedudukan terpandang di tanah Minang, ini lah penyambung nyawa Zainuddin dan merenggutnya kembali setelahnya.

30 November 2008, siang itu aku tengah dialun lamunan, setelah badai dimalamnya mengamuk pikiran, mata urung dapat terpejamkan, ingin rasanya petang itu kuhabiskan untuk menenangkan kepala. Sahabatku datang dalam ketergesaan, namun wajahnya begitu kelam dirundung malang.

“Hai…masuklah saudara ku, ada apa gerangan, hingga dipetang nan bermandikan cahaya ini, kau jadikan kelam dalam pandangan”.

“Sahabat, aku terluka. luka ini telah menggoyahkan tubuhku hingga luluh, menghancurkan keping hati ku yang lemah, membunuh semua cita dan harapan yang ku bangun atasnya dengan perjuangan yang ku bayar dengan air mata, oh…sungguh berat jika ku tanggung di badan ini tanpa berkawan, sudi lah kiranya engkau melapangkan hati untuk ku tempatkan sedikit rasa sakit yang sedang ku pikul ini. Oh…sahabat, entah akan kemana lagi ku usung jiwa ku nan resah ini.”

“Mendekatlah, berceritalah di dekat hati ku ini, agar terbagi rasa sedih mu, agar berkurang rasa sakit mu, agar kembali kedamaian itu”

Sahabat, adalah kiranya engkau mendengar hebatnya peradatan di negeri ku, negeri berkuburnya Siti Nurbaya, tempat lahirnya sang pemikir-pemikir seperti Hamka, Hatta Agus Salim dan lainnya yang luar biasa, adakah sampai kepada mu cerita itu? Ada sebait kutipan yang kiranya masih berlaku di negeriku itu;

Jikalau Merapi dan Singgalang masih memagari negeri, maka adat akan masih tetap di junjung tinggi.

“Hai…bukan kah itu baik adanya sahabat?”

Ada benarnya buah pikir mu itu, tapi negeriku bukan setumpak sawah, bukan pekarangan sekeliling pegar saja luasnya, jikalau engkau bernaung di sepanjang tepian pantai, maka adat yang engkau junjung akan berbeda jika naungan mu adalah negeri di kaki bukit. Kini ibarat Zainuddin, dari roman sang Buya, aku terbuang jauh dari Hayati, padangan sanak famili orang yang ke kasihi, sungguhlah buruk adanya karena buruk peruntunganku terlahir di tanah yang menjunjung adat yang bertolakan. Sungguh adat nan bersendi syarak itu telah menjauhkan ku dari suka, merampas harapan akan bahagia. lalu katakan pada ku sahabat, bagaimana mungkin hati ku tak remuk redam, bagaimana mungkin aku tak menjadi hilang haluan, katakan bagaimana mungkin…Kini, tak satu pun urat tubuhku yang menyatu dengan ruhku, tak lagi berjalan beriringan langkah, rasanya sungguh seperti hilang sebelah.

Sahabat. kau ibaratkanlah engkau menjadi diriku, disaat ku butuhkan kedua belah kaki yang kokoh, yang saling menyeimbangkan langkah, yang mampu menjawab tantangan hidup yang kini hendak ku genapi, tiba-tiba saja kaki ku ambruk dibentur oleh kerasnya adat yang selama ini di junjung tinggi oleh orang yang ku kasihi. laksana bunga, maka engkau adalah bunga yang digugurkan oleh ranting mu sendiri*, laksana ruh yang di binasakan oleh raganya sendiri. laksana itulah adat yang dipakai orang yang kukasihi, melemparkan ku dari tempat ku berdiri, hingga jatuh aku terpuruk diantara kesengsaraan yang tiada terkira.

“Lalu kau salahkankah adat itu?”

“Entahlah sahabat, tak lagi turut aku pada jalan pikirku ini, jikalau ku salahkan kaki ku yang melangkah, bertambah berat rasanya kedukaan ku, jikalau adat ini yang ku permasalahkan, manalah akan ada kepala yang bersedia di langkahi, maka tak lagi ada hal yang lurus di pikiran ku, tak lagi ada yang bisa aku damaikan disana, tak ada yang ku persalahkan, tidak pula nasip ku kira, barangkali memang begini adanya. Namun sungguh ironis bagi ku, berabat berlalu setelah kapal Van Der Wijck itu telah dikaramkan oleh lautnya sendiri, masih kah kini, ku tanggung derita yang tak jauh berbeda dengan kisahnya, ku kira waktu telah berganti, ternyata hari yang berputar kembali.”

“Apa yang dapat kuperbuat bagi mu sahabat?”

“Wahai sahabat yang sungguh pemurah hari, sudilah kiranya engkau temani aku hari ini, esok, dan lusa, dan hari-hari setelahnya, hingga mengering luka di hati, hingga mampu lagi ku berdiri menantang pagi, hingga terbaring aku kembali dalam tidur-tidur ku. Hingga kutemui lagi engkau dalam kesukaan hatiku.”

“Maka sungguh tak kan pernah lepas engkau dari pandangan ku.”

Posted by: searahangin | November 7, 2008

Rabbi, kenapa bunda menangis

Malam itu, hidup menuntut ku menggumuli nasip. jam yang melingkari pergelangan tangan yang makin menulang mulai tampak membayang. malam telah mengkupi bumi dengan sempurna. 11.23 pm. disebuah kota gersangang bertanah merah. namun tampaknya tak satu pun dari detak bumi yang mengganggu mereka. klinik bersalin, entah apa namanya aku pun lupa. langkah masih ku atur menapaki lantai putih menuju pintu keluar. exit. begitu yang tertulis pada pagu di atasnya. namun sebuah baligo kecil menghentikan langkah ku.

aceh_028

Rabbi, kenapa bunda menangis

Seorang anak kecil bertanya pada Tuhannya :

Rabbi, kenapa bundaku sering menangis?

Allah menjawab,

Karena ibumu seorang wanita…

Aku ciptakan wanita sebagai makhluk istimewa

Aku kuatkan bahunya untuk menyangga dunia

Aku kuatkan hatinya untuk memberi rasa aman

Aku kuatkan rahimnya untuk melahirkan benih manusia,dan

Aku tabahkan pribadinya, untuk terus berjuang saat yang lain menyerah

Aku berikan dia rasa sensitive untuk mencintai putra putrinya

Akau tanamkan rasa sayang yang akan menina bobokan anaknya

Dan berbagi cerita dengan putra putrinya yang beranjak dewasa

Aku beri dia kekuatan memikul beban keluarganya tanpa mengeluh

Aku kuatkan bathinnya untuk menyayangi meski disakiti (oleh putra-putrinya sendiri)

Aku beri dia keindahan untuk melindungi bathin suaminya

Aku beri dia kebijaksanaan untuk mengerti

belum pernah aku bersyukur lebih dari saat itu, kenapa aku terlahir sebagai perempuan. karena menjadi seorang ibu, sungguh sebuah tantangan terbesar yang pernah ada, dan sebuah ilmu yang menyertainya harus mampu di kuasai siapa pun yang ingin menjadi seperti ibunda, ikhlas…

terimakasih bunda,

arlina, Pekan Baru, 2006

sumber foto : http://ummuyahya.blogspot.com/

Posted by: searahangin | November 5, 2008

November 5, 2008

pagi ini kulihat sahabat ku termanggu di samping peraduannya. raut wajahnya mangabarkan pada ku, ada yang mengganggu kedamaian pagi ini di hatinya. lama ku menatapnya, hingga ku hampiri juga ia.

sahabat, apakah gerangan ini, kenapa kau tak menemani hangatnya pagi menyambut kedatangan ku. ia menatap ku sesaat, lalu kembali terbenam dalam pikirnya yang panjang.

oh, sahabat ku yang diterangi hatinya. alangkah mudah bagi mu hidup ini di janjikan pencipta mu. jikalau enggan engkau dikesepian, kenapa tak kau datangi karip kerabat hingga kembali suka ria bersama mu, jikalau beratnya beban engkau pikul sendiri kenapa tak kau bagi dengan sahabat mu yang setia membantu. oh…sahabat, jangan engkau hanyut dalam kesendirian pikir mu.

sahabat. lirihnya. sungguh keraguan telah mendatangi ku beberapa hari ini. ia datang dalam rupa masa lalu yang mengganggu, sungguh mengganggu hati ku. lalu bagai mana mungkin hari ini aku dapat tersenyum bersamamu, jika keraguan itu masih bersemayam disana. menghalangi kejernihan pikirku. sungguh murung aku karena nya. karena sahabat, apalah daya ku ini yang tiada sebanding dengan mu, sungguh perkara ini telah mengaburkan hatiku, meracuni jalan darah ku, mengaburkan mata hati ku.

wahai sahabat, jangan engkau merisaukan itu terlalu dalam, alangkah baiknya engkau pertemukan aku dengan nya dan mari bersama kita duduk bersela di diantara seluk beluk benak yang belukar itu. jalan ini datang kembali padamu, bukan lah untuk menghentikan langkahmu, namun sungguh ia datang atas kehendak-Nya. agar kuat akan mu.

agar kuat hati mu kala melanjutkan langkah mu yang baru, agar kuat adanya telapak kaki mu saat kerikil pun hadir dijalan mu, agar kuat mata mu mencermati kala jalan itu datang berliku, agar kuat adanya telingamu kala angin ribut pun ikut bersama di jalan itu. agar kuat raga mu kala hujan dan dan garangnya panas menemani cengkrama mu.

hingga kuat ruh-nya, agar kuat pula segala yang menyertai-nya, sahabat.

Posted by: searahangin | November 3, 2008

November 3, 2008

sahabat, bangunlah lirihnya. lihatlah pagi yang menantang kau untuk berlari. tengoklah mentari yang melenggok membawakan secangkir kopi hangat ke peraduanmu. maukah kau menaklukkan siang ini untuk ku, dan pulanglah bersisian malam nanti kepada ku.

sahabat, bangunlah.

suara serak itu lagi. lagi…dan lagi. setiap pagi, setiap hari tanpa absen, dia mengusik tidur ku yang lelep bersama mimpi. mengganggu sekali. keluhku dalam hati. tapi ia tak lelah, ia tak pernah menyerah. keras kepala. setengah hati aku menguak kelopak mata, berat, rasanya baru sebentar saja aku terlelap. tapi matahari sudah tinggi, waktu ku tlah datang untuk melanjutkan hari yang sesaat terhenti oleh buaian mimpi.

sahabat, bangunlah…

Older Posts »

Categories