Surat ini harusnya ku hantarkan pada mu setahun yang lalu, tapi kabut menghalangi perjalanan ku. Oh, sahabat, kabut itu sulit ku tepis, ia menghalangi tak hanya kejernihan pandangan ku. Ia menembus hingga ulu hati ku, hingga untuk dapat berdiri saja tak lagi aku mampu, hingga lumpuh menguasai raga ku.
Surat ini seharusnya dapat kau baca setahun yang lalu, sahabat. Andai saja ia dapat menjelma menjadi lebih dari sekedar tinta hitam yang mencoreng putihnya halaman penghantarnya. Tapi tidak, untaiannya pun seindah yang kuinginkan.
Sahabat, andai saja surat ini bersama mu setahun yang lalu, barangkali akan lebih indah adanya. Karena engkau masih memiliki pita merah pengikatnya, engkau masih mengukirkan lukisan kecil mu, penghiasan pinggirannya. Ah, sahabat, waktu sungguh berputar melebihi urat nadi ku.
Namun, kuharap kini ia benar-benar di jalan menuju alamat mu, sahabat. Ku kirimkan surat ini mesti harus setahun ia menanti. Tak lebih dari sekedar perbincangan lama yang kembali ku tuliskan disana, tapi sungguh itu kenangan kebahagian ku, sungguh. Tak lebih dari senda gurau mu yang ku kembalikan pada haribaan mu, ku harap mereka masih mampu membuat mu tersenyum, seperti apa yang telah mereka persembahkan atas ku.
Jika boleh ku berpesan sahabat, janganlah karena amarah mu atas kelancangan ku membuat engkau acuh atas surat ku ini, bila tak mampu aku sampaikan maaf ku, maka dengan ini ku harapkan belas mu. sudilah kiranya kau simpankan surat itu untuk ku, hingga suatu waktu, jika masa ku sampai, akan ku jemput kembali ia, akan ku jemput kembali semua kata-kata ku, dan ia akan abadi bersama ku.
hm…trkdg kesadaran itu sering dtg trlambat,
By: zilmita. S on December 2, 2010
at 2:07 pm