Posted by: searahangin | May 16, 2010

What do you got for me today?

Hari ini, Minggu, 16 Mei 2010. Dua hari yang lalu, dengan tanpa niat ingin membeli sesuatu, saya melewati “grand sale” di sebuah toko buku. Woman, you know, we can’t stand the word SALE. Likewise, seperti yang semua blogger perkirakan, saya pulang membawa dua buah buku. Yang pertama adalah buku dengan title International best seller, berjudul Tuesdays With Morrie, dan yang kedua genre kesukaan saya, political-psychology-thriller. (Saya belum akan membahas buku yang kedua, karena saya belum membacanya.)

Hari ini kota saya diguyur hujan yang membekukan tulang, saya meneruskan bacaan saya Tuesday With Morrie, sambil menunggu download-an serial 30 Rock season 1 selesai saya download. (Do I ever tell you, I am a movie freak, well I do). Jadi hari ini saya sentimental, maka dengan demikian saya akan kembali ke buku bacaan diatas, buku ini menceritakan Morrie, profesor sosiologi yang sekarat karena ALS (Amyotrophic Lateral Syndrome). dengan subtitle “pelajaran tentang makna hidup”. Hmmm….saya yakin blogger sudah sangat mengenal tipe buku semacam ini.

Saya ingin menghubungkan kisah atau “pelajaran tentang makna hidup” dalam buku itu dengan Alif, bocah 5 tahun anak seorang kenalan saya. Saya tidak mengenal bocah ini, hanya tau dia lewat cerita yang sering saya dengar dari ibunya, teman kuliah saya. Suatu hari teman saya bercerita, namun singkatnya dari cerita itu, ada satu kalimat yang begitu tertempel kuat diingatan saya. “Mama bawa apa untuk Alif?” begitu ia bertanya pada ibunya, setelah ibunya kembali sore hari dari beraktifitas.

Saya tidak akan mengeluarkan kata-kata pamungkas “Mari kita renungkan.”. Tapi, mari kita dengar, kata-kata ini berasal dari manusia kecil, manusia yang 20 atau 25 tahun lalu adalah kita. Manusia itu masih ada dalam diri kita. Hanya saja kita lupa mendengarkannya. Kalau saja kata-kata itu ia sampaikan pada diri kita sore ini, atau malam ini.

“Apa yang kau bawa pulang hari ini untuk diri mu?”

Pria kecil diatas tentu mengharapkan dia dibawakan sekotak kue atau coklat atau bahkan mainan. Tapi apa yang anda ingin dapatkan hari ini?

Advertisements
Posted by: searahangin | May 6, 2010

Hanya yang mau berubah, yang akan berubah….

motivation-getmotivated Klise? Betul.  Sangat klise, karena kata-kata seperti itu adalah quote yang sangat disukai motivator untuk membangkitkan semangat kita.

“Ayo berubah….Kita pasti bisa berubah menjadi lebih baik….dan seterusnya saya yakin, teman2 bloger tau jauh lebih banyak kata-kata penyemangat itu.

Jika dimisalkan ada tiga golongan responden yang hadir:

1. Mendengarkan dan menjalankan nasehat dengan disiplin.

2. Mendengarkan, menjalankan nasehat dengan pengecualian: kadang-kadang lupa.

3. Mendengarkan tapi tidak mau menjalankan

Tentu hasil dari tiga golongan diatas dapat kita lihat hasilnya dari keseharian, saya yakin contoh ini dapat kita temui sehari-hari.

Dan memang betul, hanya yang mau mendengarkan kata-kata motivator itu, yang berubah. Hanya yang mendengarkan dan menjalankannya lah yang memanen hasil kebaikan.

Dari seminggu yang lalu, saya putuskan, kalimat pertama setelah do’a bangun tidur yang saya ucapkan adalah “Hari ini saya akan mendahulukan syukur”, begitu kata-kata om Mario Teguh yang saya kutip. Tapi setelah dua hari berlalu, pagi yang ketiga setelah saya berjanji, saya lupa. Wajar? wajar, karena manusia tak luput dari lupa. Tapi apa itu bisa dijadikan pembenaran. Tidak. Karena disitulah letak jalan menuju sempurna, hari itu seharusnya saya minta maaf kerena mendzolimi diri sendiri. Seharusnya…..

Orang yang melakukan itu pastilah pribadi terbaik (Golongan I). Walaupun mungkin saya tak sebaik itu (saya berharap pembaca jauh lebih baik). Tapi setidaknya pagi keempat saya mencoba kembali menepati janji. Itu sedikit cerita tentang yang mau mendengarkan dan menjalankan perbaikan (yang mau berubah) maka ia menjadi pribadi yang berubah menjadi lebih baik.

Tapi bagaimana dengan sahabat, rekan, atau anak didik kita menjadi kemungkinan ke-tiga. Ini yang sangat mengusik saya, apa yang harus kita lakukan. Jika kebetulan jenis responden ke-tiga ini adalah orang-orang yang kita sayangi, orang-orang terdekat kita, saudara atau anak mungkin.

Apa yang bisa kita lakukan?

Jika kita sudah mencoba memberikan nasehat, bimbingan atau bentuk motivasi lainnya. Jika rasanya contoh pun sudah kita berikan.

Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?

Posted by: searahangin | April 3, 2010

1st August 2007

DSC01709 Listen to me when you got lost.

Just remember my eyes when it got worst.

Because I am the only cure, for your unsolved desire.

Get closer to me, when you feel empty.

Touch my heart, when you’re lonely.

Don’t you dare close you’re eyes, cause I’ll die when you blink once.

Come, my dear. Tell me what to do, what to say. To kept being the one that you want. Go, step out cross the line, then you’ll see how far I can stand. And, at the end, when no one left, why don’t you look back and seeing me.

Posted by: searahangin | August 31, 2009

Aug, 30 2009

My dearest, how are you. It have been a while, from time when I saw you in light of morning dew. Sunday morning that will be forever in my mind when I a wake, and every dream I dreamed. You let me go with out saying goodbye, because no good bye in love, you said. And I walk away with one vow, that I will come to you, no matter when it will be. I promises, and love will keep our promises.

Till then, my darling. Please wait for me, wait me there, with all longing eyes of tender love. Because, I know I will be come to you someday. Dearest, please wait.

Your love, my dear, are keeping me smile until this very moment. Your smile are lay next to my morning sunset. I saw your face in every best picture of beauty. Although there were tears and sadness, but the happiness and joy that may come, each time I remembering you, swept them away. And when that day come, I will hold you again.

But, till then let dream what that will be, till then we’ll call on our each memory, till then, till I felt your heartbeat again mine. Please wait till then.

Posted by: searahangin | August 15, 2009

Tonight Dear

sleep_Harvey_macro_18960_l Tonight dear

Rain drenched the dirt

I brought them into my doorstep

Strangely their bring me your footstep

Tonight dear

Wind swirl between branch

I feel the touch in my lips

Unpredictably she smell just like you

Tonight dear

I wrote  you the song

Song where you’ll live there forever

For me and for our memories

Tonight dear

I found you sitting beside me

I reading you the book I read

And I woke up after the kissing good night

Posted by: searahangin | June 26, 2009

Surat ini harusnya ku hantarkan pada mu setahun yang lalu.

letter

Surat ini harusnya ku hantarkan pada mu setahun yang lalu, tapi kabut menghalangi perjalanan ku. Oh, sahabat, kabut itu sulit ku tepis, ia menghalangi tak hanya kejernihan pandangan ku. Ia menembus hingga ulu hati ku, hingga untuk dapat berdiri saja tak lagi aku mampu, hingga lumpuh menguasai raga ku.

Surat ini seharusnya dapat kau baca setahun yang lalu, sahabat. Andai saja ia dapat menjelma menjadi lebih dari sekedar tinta hitam yang mencoreng putihnya halaman penghantarnya. Tapi tidak, untaiannya pun seindah yang kuinginkan.

Sahabat, andai saja surat ini bersama mu setahun yang lalu, barangkali akan lebih indah adanya. Karena engkau masih memiliki pita merah pengikatnya, engkau masih mengukirkan lukisan kecil mu, penghiasan pinggirannya. Ah, sahabat, waktu sungguh berputar melebihi urat nadi ku.

Namun, kuharap kini ia benar-benar di jalan menuju alamat mu, sahabat. Ku kirimkan surat ini mesti harus setahun ia menanti. Tak lebih dari sekedar perbincangan lama yang kembali ku tuliskan disana, tapi sungguh itu kenangan kebahagian ku, sungguh. Tak lebih dari senda gurau mu yang ku kembalikan pada haribaan mu, ku harap mereka masih mampu membuat mu tersenyum, seperti apa yang telah mereka persembahkan atas ku.

Jika boleh ku berpesan sahabat, janganlah karena amarah mu atas kelancangan ku membuat engkau acuh atas surat ku ini, bila tak mampu aku sampaikan maaf ku, maka dengan ini ku harapkan belas mu. sudilah kiranya kau simpankan surat itu untuk ku, hingga suatu waktu, jika masa ku sampai, akan ku jemput kembali ia, akan ku jemput kembali semua kata-kata ku, dan ia akan abadi bersama ku.

Posted by: searahangin | June 22, 2009

Maka temui aku diantara tetesan embun pagi

morning_dew

Hari ini, Bumi sungguh sama saja seperti kemarin, kemarin lusa, minggu lalu, bahkan tahun lalu. Bahkan setelah badai mengamuk senja, petir-petir menelanjangi angkasa, selepas vulkano-vulkano itu bersenggama, dia masih saja sama. Esok, katanya pula, mentari ku akan masih tetap disana, terbangun di ujung timur ranjangnya, merah karena terbakar hangatnya, tapi masih merajuk malu pada gemintang dan tuan rembulan ku. Esok, lanjutnya pula, bahkan tanpa kau tau, kami damaikan isi perut kami sendiri, dan kau tak perlu tau.

Saat ku datang menemuinya malam itu, dia sedang tidak dalam gaum malam terbaiknya, dia malu, ucapnya. Pelan ku geser daun pintu, hingga hanya raut wajah yang telah terhias yang dapat ku tatap. Aku menawan bukan, jujur sorot mata mu menyampaikannya, bahwa kau tertawan oleh ku, lanjutnya. Tapi tidak, tidak malam ini, sahutnya lagi dengan seukir senyum yang tak akan mampu ku kalahkan. Dan aku kalah.

Datang lah besok pagi, serunya, selepas malam ini, malam dimana aku harus menyatukan kembali satu per satu mimpi ku, malam dimana akan ku bangun lagi jaring-jaring untaian berlian ku, malam dimana akan ku pandang lagi kedamaian kelam, malam yang akan kembali menyusun isi hati ku.

Datang lah besok pagi, setelah bulir embun membasuh debu jalanan, setelah bulir embun membasuh lagi rupa kembang yang layu karena gersang, setelah bulir embun itu melepaskan warna pelangi diantara terik mentari, setelah bulir-bulir embun itu kembali jatuh di atas bulu halus rumput-rumput ilalang.

Datang lah saat itu, saat embun itu masih mampu mendamaikan tanah-tanah meranggas, saat embun itu masih bertahan di antara daun-daun yang bertiup, saat embun itu masih akan menyejukan tangan mu yang hangat oleh lelap. Karena aku diantara mereka, di antara kesejukkan pagi yang ringkih, namun kau damba. Jangan terlambat, bangun lah lebih awal untuk ku, dan temui aku. Temui aku disana, diantara tetesan embun pagi.

Posted by: searahangin | February 3, 2009

Duduklah disampingku

Mendekatlah sedikit kearah ku

Mengapa kau berlari dari ku

Jangan. Jangan berdiam saja disitu

Kemarilah, duduklah disamping ku

Hari masih sore, senja masih remaja

Kemana rupanya engkau begitu tergesa

Hingga kau hiraukan saja hadir ku

Berhentilah, dan duduklah disamping ku

Kemana saja kau pergi

Kenapa tak lagi membawa ku serta

Apa aku hanya membebani

Duduklah disamping ku sebentar saja

Banyak cerita kau lampaui saat kau pergi

Dengarkanlah kisah ku

Akan ku ceritakan pada mu

Mari duduklah disamping ku

Posted by: searahangin | January 25, 2009

25 januari 2009

Hari ini, pagi-pagi sekali telepon genggam ku bergetar hebat, entah karena kantuk yang masih menggelayut atau memang karena subuh yang baru saja berkumandang. Ibunda. Tulisan itu yang terpampang jelas di screen berlatar hitam itu. menyala dan membuat mata ku perih. “Selamat hari jadi ya nak, hanya doa yang bisa mama hadiahkan untuk hari ulang tahun mu ini, barang kali yang lain tidak”. Kata-kata yang sangat biasa itu, menyentak sadarku, mata yang tadi perih kini memanas, dan mulai mengalirkan air mata. “Mama baru saja pulang dari masjid”, lanjut suara itu dengan sedikit bergetar. “Bangunlah nak, shalat”.

Itulah kado terindah ku pagi ini, seorang diri di rantau, membuatku teramat sadar, bahwa aku kehilangan ibu ku, saat ia tak bersama ku. kehilangan yang teramat besar, akan seorang teman berbagi, teman ku mengadukan hati, teman yang merangkul ku kala ku remuk, teman yang menghardik ku tegas kala ku lemah dan menyerah. Ibu, aku merindukan mu.

Posted by: searahangin | December 4, 2008

Dan Van Der Wijck pun tenggelam kembali

Takut dan sesal

Cerita seorang sahabat yang datang pada ku beberapa hari lalu, membawa ingatan ini kembali pada sebuah roman lama, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, oleh Buya Hamka (Sang Maestro). Ingatan ku kembali pada sosok Zainuddin yang membentang harapan luas akan tanah Minangkabau nan rupawan, nun jauh dibalik lautan. Harapan itu pudar, jikala telah sampai ia ke tanah asalnya itu. ia tek teraku minang, bukan lah pula bugis, di rantau badan tersisih, pun di rumah badan tak berharga. Konon Hayati, nama seorang bunga desa, keturunan Datuk, bergelar berkedudukan terpandang di tanah Minang, ini lah penyambung nyawa Zainuddin dan merenggutnya kembali setelahnya.

30 November 2008, siang itu aku tengah dialun lamunan, setelah badai dimalamnya mengamuk pikiran, mata urung dapat terpejamkan, ingin rasanya petang itu kuhabiskan untuk menenangkan kepala. Sahabatku datang dalam ketergesaan, namun wajahnya begitu kelam dirundung malang.

“Hai…masuklah saudara ku, ada apa gerangan, hingga dipetang nan bermandikan cahaya ini, kau jadikan kelam dalam pandangan”.

“Sahabat, aku terluka. luka ini telah menggoyahkan tubuhku hingga luluh, menghancurkan keping hati ku yang lemah, membunuh semua cita dan harapan yang ku bangun atasnya dengan perjuangan yang ku bayar dengan air mata, oh…sungguh berat jika ku tanggung di badan ini tanpa berkawan, sudi lah kiranya engkau melapangkan hati untuk ku tempatkan sedikit rasa sakit yang sedang ku pikul ini. Oh…sahabat, entah akan kemana lagi ku usung jiwa ku nan resah ini.”

“Mendekatlah, berceritalah di dekat hati ku ini, agar terbagi rasa sedih mu, agar berkurang rasa sakit mu, agar kembali kedamaian itu”

Sahabat, adalah kiranya engkau mendengar hebatnya peradatan di negeri ku, negeri berkuburnya Siti Nurbaya, tempat lahirnya sang pemikir-pemikir seperti Hamka, Hatta Agus Salim dan lainnya yang luar biasa, adakah sampai kepada mu cerita itu? Ada sebait kutipan yang kiranya masih berlaku di negeriku itu;

Jikalau Merapi dan Singgalang masih memagari negeri, maka adat akan masih tetap di junjung tinggi.

“Hai…bukan kah itu baik adanya sahabat?”

Ada benarnya buah pikir mu itu, tapi negeriku bukan setumpak sawah, bukan pekarangan sekeliling pegar saja luasnya, jikalau engkau bernaung di sepanjang tepian pantai, maka adat yang engkau junjung akan berbeda jika naungan mu adalah negeri di kaki bukit. Kini ibarat Zainuddin, dari roman sang Buya, aku terbuang jauh dari Hayati, padangan sanak famili orang yang ke kasihi, sungguhlah buruk adanya karena buruk peruntunganku terlahir di tanah yang menjunjung adat yang bertolakan. Sungguh adat nan bersendi syarak itu telah menjauhkan ku dari suka, merampas harapan akan bahagia. lalu katakan pada ku sahabat, bagaimana mungkin hati ku tak remuk redam, bagaimana mungkin aku tak menjadi hilang haluan, katakan bagaimana mungkin…Kini, tak satu pun urat tubuhku yang menyatu dengan ruhku, tak lagi berjalan beriringan langkah, rasanya sungguh seperti hilang sebelah.

Sahabat. kau ibaratkanlah engkau menjadi diriku, disaat ku butuhkan kedua belah kaki yang kokoh, yang saling menyeimbangkan langkah, yang mampu menjawab tantangan hidup yang kini hendak ku genapi, tiba-tiba saja kaki ku ambruk dibentur oleh kerasnya adat yang selama ini di junjung tinggi oleh orang yang ku kasihi. laksana bunga, maka engkau adalah bunga yang digugurkan oleh ranting mu sendiri*, laksana ruh yang di binasakan oleh raganya sendiri. laksana itulah adat yang dipakai orang yang kukasihi, melemparkan ku dari tempat ku berdiri, hingga jatuh aku terpuruk diantara kesengsaraan yang tiada terkira.

“Lalu kau¬†salahkankah adat itu?”

“Entahlah sahabat, tak lagi turut aku pada jalan pikirku ini, jikalau ku salahkan kaki ku yang melangkah, bertambah berat rasanya kedukaan ku, jikalau adat ini yang ku permasalahkan, manalah akan ada kepala yang bersedia di langkahi, maka tak lagi ada hal yang lurus di pikiran ku, tak lagi ada yang bisa aku damaikan disana, tak ada yang ku persalahkan, tidak pula nasip ku kira, barangkali memang begini adanya. Namun sungguh ironis bagi ku, berabat berlalu setelah kapal Van Der Wijck itu telah dikaramkan oleh lautnya sendiri, masih kah kini, ku tanggung derita yang tak jauh berbeda dengan kisahnya, ku kira waktu telah berganti, ternyata hari yang berputar kembali.”

“Apa yang dapat kuperbuat bagi mu sahabat?”

“Wahai sahabat yang sungguh pemurah hari, sudilah kiranya engkau temani aku hari ini, esok, dan lusa, dan hari-hari setelahnya, hingga mengering luka di hati, hingga mampu lagi ku berdiri menantang pagi, hingga terbaring aku kembali dalam tidur-tidur ku. Hingga kutemui lagi engkau dalam kesukaan hatiku.”

“Maka sungguh tak kan pernah lepas engkau dari pandangan ku.”

Older Posts »

Categories