Posted by: searahangin | December 4, 2008

Dan Van Der Wijck pun tenggelam kembali

Takut dan sesal

Cerita seorang sahabat yang datang pada ku beberapa hari lalu, membawa ingatan ini kembali pada sebuah roman lama, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, oleh Buya Hamka (Sang Maestro). Ingatan ku kembali pada sosok Zainuddin yang membentang harapan luas akan tanah Minangkabau nan rupawan, nun jauh dibalik lautan. Harapan itu pudar, jikala telah sampai ia ke tanah asalnya itu. ia tek teraku minang, bukan lah pula bugis, di rantau badan tersisih, pun di rumah badan tak berharga. Konon Hayati, nama seorang bunga desa, keturunan Datuk, bergelar berkedudukan terpandang di tanah Minang, ini lah penyambung nyawa Zainuddin dan merenggutnya kembali setelahnya.

30 November 2008, siang itu aku tengah dialun lamunan, setelah badai dimalamnya mengamuk pikiran, mata urung dapat terpejamkan, ingin rasanya petang itu kuhabiskan untuk menenangkan kepala. Sahabatku datang dalam ketergesaan, namun wajahnya begitu kelam dirundung malang.

“Hai…masuklah saudara ku, ada apa gerangan, hingga dipetang nan bermandikan cahaya ini, kau jadikan kelam dalam pandangan”.

“Sahabat, aku terluka. luka ini telah menggoyahkan tubuhku hingga luluh, menghancurkan keping hati ku yang lemah, membunuh semua cita dan harapan yang ku bangun atasnya dengan perjuangan yang ku bayar dengan air mata, oh…sungguh berat jika ku tanggung di badan ini tanpa berkawan, sudi lah kiranya engkau melapangkan hati untuk ku tempatkan sedikit rasa sakit yang sedang ku pikul ini. Oh…sahabat, entah akan kemana lagi ku usung jiwa ku nan resah ini.”

“Mendekatlah, berceritalah di dekat hati ku ini, agar terbagi rasa sedih mu, agar berkurang rasa sakit mu, agar kembali kedamaian itu”

Sahabat, adalah kiranya engkau mendengar hebatnya peradatan di negeri ku, negeri berkuburnya Siti Nurbaya, tempat lahirnya sang pemikir-pemikir seperti Hamka, Hatta Agus Salim dan lainnya yang luar biasa, adakah sampai kepada mu cerita itu? Ada sebait kutipan yang kiranya masih berlaku di negeriku itu;

Jikalau Merapi dan Singgalang masih memagari negeri, maka adat akan masih tetap di junjung tinggi.

“Hai…bukan kah itu baik adanya sahabat?”

Ada benarnya buah pikir mu itu, tapi negeriku bukan setumpak sawah, bukan pekarangan sekeliling pegar saja luasnya, jikalau engkau bernaung di sepanjang tepian pantai, maka adat yang engkau junjung akan berbeda jika naungan mu adalah negeri di kaki bukit. Kini ibarat Zainuddin, dari roman sang Buya, aku terbuang jauh dari Hayati, padangan sanak famili orang yang ke kasihi, sungguhlah buruk adanya karena buruk peruntunganku terlahir di tanah yang menjunjung adat yang bertolakan. Sungguh adat nan bersendi syarak itu telah menjauhkan ku dari suka, merampas harapan akan bahagia. lalu katakan pada ku sahabat, bagaimana mungkin hati ku tak remuk redam, bagaimana mungkin aku tak menjadi hilang haluan, katakan bagaimana mungkin…Kini, tak satu pun urat tubuhku yang menyatu dengan ruhku, tak lagi berjalan beriringan langkah, rasanya sungguh seperti hilang sebelah.

Sahabat. kau ibaratkanlah engkau menjadi diriku, disaat ku butuhkan kedua belah kaki yang kokoh, yang saling menyeimbangkan langkah, yang mampu menjawab tantangan hidup yang kini hendak ku genapi, tiba-tiba saja kaki ku ambruk dibentur oleh kerasnya adat yang selama ini di junjung tinggi oleh orang yang ku kasihi. laksana bunga, maka engkau adalah bunga yang digugurkan oleh ranting mu sendiri*, laksana ruh yang di binasakan oleh raganya sendiri. laksana itulah adat yang dipakai orang yang kukasihi, melemparkan ku dari tempat ku berdiri, hingga jatuh aku terpuruk diantara kesengsaraan yang tiada terkira.

“Lalu kau¬†salahkankah adat itu?”

“Entahlah sahabat, tak lagi turut aku pada jalan pikirku ini, jikalau ku salahkan kaki ku yang melangkah, bertambah berat rasanya kedukaan ku, jikalau adat ini yang ku permasalahkan, manalah akan ada kepala yang bersedia di langkahi, maka tak lagi ada hal yang lurus di pikiran ku, tak lagi ada yang bisa aku damaikan disana, tak ada yang ku persalahkan, tidak pula nasip ku kira, barangkali memang begini adanya. Namun sungguh ironis bagi ku, berabat berlalu setelah kapal Van Der Wijck itu telah dikaramkan oleh lautnya sendiri, masih kah kini, ku tanggung derita yang tak jauh berbeda dengan kisahnya, ku kira waktu telah berganti, ternyata hari yang berputar kembali.”

“Apa yang dapat kuperbuat bagi mu sahabat?”

“Wahai sahabat yang sungguh pemurah hari, sudilah kiranya engkau temani aku hari ini, esok, dan lusa, dan hari-hari setelahnya, hingga mengering luka di hati, hingga mampu lagi ku berdiri menantang pagi, hingga terbaring aku kembali dalam tidur-tidur ku. Hingga kutemui lagi engkau dalam kesukaan hatiku.”

“Maka sungguh tak kan pernah lepas engkau dari pandangan ku.”

Advertisements

Responses

  1. Reblogged this on Butiran Debu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: